Artikel

ANAK YANG REWEL : WAJARKAH ?

Share
  • Twitter
  • Facebook
Dr. Elly Yuliandari

Ani,  ibu dari dua orang anak merasa kewalahan menghadapi anaknya yang berusia 5 (lima tahun). Anaknya, sebut saja Andre bisa dibilang mudah menangis oleh hal-hal kecil yang membuatnya tidak nyaman. Ia akan menangis saat adiknya yang berusia 3 tahun mengganggu dirinya. Ia akan berteriak sekencang-kencangnya bila meminta sesuatu namun tidak segera dipenuhi. Kondisi ini terjadi semenjak 2 tahun lalu. Pada masa sebelumnya Andre bisa dikatakan merupakan anak yang tenang dan cukup penurut. Namun semenjak dua tahun ini Andre mudah sekali merengek dan adakalanya rengekan ini terjadi tanpa sebab yang jelas. 

Menyimak kondisi anaknya ini, Ani berusaha untuk bisa mengatasinya dengan meminta pembantunya untuk menjaga secara khusus Andre. Ani juga berusaha mewanti-wanti agar adiknya tidak mengganggu kakaknya. Upaya yang dilakukan Ani ini ternyata tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Andre tetap mudah merengek bahkan adakalanya ia enggan pergi ke sekolah tanpa sebab yang jelas. Beberapa kali Andre membolos sekolah. Padahal, di sekolah Andre nampak periang dan memiliki banyak teman. Ia juga cukup bisa mengikuti materi pelajaran yang disampaikan di sekolah tanpa kesulitan berarti. Mengapa pula di sekolah ia Nampak tenang padahal di rumah ia mudah merajuk. Apakah ini merupakan pertanda bahwa ia menunjukkan protes pada orang-orang di rumah ?

Apakah perilaku Andre ini bisa dikatakan wajar ? Mengapa adiknya yang berusia lebih muda nampak lebih tenang dibanding kakaknya apakah ini semata-mata perbedaan yang disebabkan oleh faktor kepribadian, ataukah ada sebab lain yang membuatnya mudah sekali merengek dan merajuk. Lalu langkah apa sebaiknya yang dilakukan untuk mengatasi kondisi ini ? beragam pertanyaan ini mengemuka dan menimbulkan kegelisan bagi Ani.

Kecenderungan yang dialami oleh Andre ini disebabkan merupakan bentuk gangguan Attention seeking behavior atau perilaku yang bersifat mencari perhatian. Attention seeking berhavior ditandai dengan berbagai upaya dan perilaku anak yang berusaha meminta perhatian orang tua atau pihak yang dianggap signifikan. Biasanya attention seeking behaviordinampakkan dalam perilaku yang rewel, ataupun perilaku lain yang bersifat mengganggu.Ada kemungkinan muncul perilaku yang bersifat mengganggu seperti :sengaja menghilangkan atau merusak barang, mengganggu orang lain ataupun berterial keras-keras saat merasa tidak nyaman, mengabaikan aturan, dsb. Attention seeking behavior disebut juga disruptive behavior.Untuk menetapkan apakah anak mengalami attention seeking behaviorataudisruptive behaviormaka perlu ditinjau lebih lanjut kemungkinan lain sebagai diagnosis banding. Pertama, anak yang mudah rewel bisa disebabkan karena adanya trauma akan kekerasan ataupun pengalaman pahit yang tidak terlupakan. Adakalanya perlakuan yang mengandung kekerasan seperti halnya membentak dan memukul anak, membuat anak merasa tidak aman (insecure). Kondisi anak yang merasa tidak aman akan membuatnya mudah merengek dan merajuk bila menghadapi situasi yang kurang nyaman. Kedua, alternative lain yang menyebabkan anak mudah rewel adalah adanya kemungkinan anak memiliki kepribadian yang sensitif dan mudah terstimulasi perlakuan eksternal.

Menyimak berbagai kemungkinan yang menjadi penyebab anak yang mudah rewel, maka identifikasi atau upaya untuk megetahui penyebabnya perlu dilakukan semenjak awal. Upaya untuk mengidentifikasi penyebab gangguan perlu dilakukan agar bisa mendapat penanganan segera. Penanganan yang cepat pada kasus tersebut akan membantu anak untuk menjalani kehidupan lebih nyaman.

Seorang anak di usia 5 tahun telah memiliki kemampuan untuk bisa mengelola emosinya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Anak yang berusia lima tahun mulai menunjukkan kapasitasnya untuk melakukan seleksi akan perlakuan atau situasi yang bisa membuatnya merajuk dan perilaku yang perlu diabaikan. Dengan kata lain anak di usia 5 tahun sudah mulai mampu mengelola emosinya (emotion regulation).

Bila dilihat dari tahap perkembangannya, Andre juga memiliki fase dimana ia mulai mengenal relasi sosial. Diusianya yang 5 tahun anak mulai berusaha untuk bisa menyesuaikan perilakunya sesuai dengan tuntutan eksternal (orang tua atau pihak signifikan lainnya). Hal lain yang menjadi ciri perilaku anak usia 5 tahun adalah kecenderungan anak untuk memiliki hobby atau perilaku yang produktif sesuai dengan minatnya. Pusat aktivitas anak di usia ini, tidak lagi berpusat pada (upaya meminta perhatian) orang tuanya, namun anak sudah mulai menunjukkan mulai menunjukkan kemandiriannya dalam melakukan aktivitasnya. Anak memiliki tendensi memilih bergaul dengan teman sebayanya, atau saudara-saudara seusia selain bercengkerama dengan orang tuanya.

Bila anak belum menunjukkan ciri-ciri kematangan yang dimaksud, ada kemungkinan ia mengalami gangguan attention seeking behavior. Bila anak menunjukkan perilaku rewel yang berlebihan, orang tua perlu mengidentifikasi penyebabnya. Di usia 5 tahun anak sudah mulai dipersiapkan untuk bisa menyesuaikan diri mengikuti aturan main dan menyesuaikan diri dalam pergaulan. Anak dikatakan menunjukkan perkembangan yang optimal bila ia mampu bergaul dan menikmati kebersamaan dengan teman-teman sebaya, mampu menunjukkan kemauan untuk belajar, mulai belajar mengelola diri dan memperhatikan aturan main yang ditetapkan oleh lingkungan (aturan di sekolah maupun aturan di rumah).

Pada kasus Andre ia akan beresiko mengalami gangguan penyesuaian diri, hambatan dalam mengelola emosi dan mudah patah semangat bila menghadapi kesulitan. Ia juga beresiko kurang bisa mengelola kehendak seketika (impuls), gangguan dalam konsentrasi maupun kemampuan untuk bisa merasa nyaman dan bahagia. Berbagai kemungkinan gangguan yang disebabkan oleh attention seeking behavior ini perlu diatasi segera agar perkembangan anak tidak terganggu.

Langkah awal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kasus Andre adalah berusaha untuk bisa membuatnya memahami akan pola-pola perilaku yang dinampakkan. Andre perlu mengetahui perilaku yang bisa diterima dan perilaku yang perlu untuk diubah. Di usianya yang 5 tahun, Andre sudah bisa diajak berdialog mengenai perilakunya. Ia sudah mampu diajak untuk bisa menetapkan aturan main bersama. Memang dibutuhkan ketelatenan untuk mengatasi kasus ini, dan orang yang memberikan penanganan adalah orang yang dianggap signifikan untuk anak.

Bila Andre sudah mengenali kecenderungan perilaku yang ada pada dirinya ia bisa diajarkan pula untuk bisa menyatakan keberatan atau ketidaknyamanannya dengan cara-cara yang bisa diterima. Orang tua perlu mengapresiasi secara eksplisit bila perilaku anak mengalami kemajuan yang berarti. Sebaliknya bila anak belum menunjukkan perilaku sebagaimana harapan maka orang tua perlu menjalin kedekatan yang lebih baik dengan anak agar ia mau mendengarkan bimbingan orang tua.

Hal yang perlu dihindari dari kasus ini adalah kecenderungan orang tua yang bersikap tidak sabar dalam bentuk membentak anak atau memukul anak untuk menghentikan perilaku rewel atapun perilaku mengganggu. Bila anak banyak mendapat perlakuan yang tidak nyaman, hal ini akan semakin menambah intensitas kerewelan atapun perilaku mengganggu yang dinampakkan. Sebaliknya orang tua juga perlu menghindari sikap yang cenderung membiarkan perilaku anak. Hal lain yang perlu dihindarkan orang tua adalah kecednerungan untuk menuruti berbagai keinginan anak. Dua bentuk perlakuan tersebut akan membuat anak kurang bisa belajar akan konsekuensi perilaku.

Untuk menangani anak yang rewel dan cenderung mengganggu, orang tua perlu menetapkan formula yang tepat antara memberikan perhatian, kasih saya dan menegakkan aturan main. Menangani anak yang mudah rewel membutuhkan waktu dan ketelatenan. Dengan kemauan untuk memahami kondisi anak dan tidak lelah dalam memberikan bimbingan akan menjadi modal utama bagi orang tua agar lebih memiliki kelenturan dan daya juang dalam mengasuh anak,





Fasilitas Rawat Inap RS PHC Surabaya

Banner 270 x 120 pxlBanner Space 370 x 120 pxl
Ruang Tamu Berlian,Berlian Buffed,Fasilitas Kamar Berlian
RS PHC Surabaya
Jl. Prapat Kurung Selatan No. 1 Tanjung Perak - Surabaya
 | Phone : +62 31-329 4801 - 3 | Fax. : +62 31-329 4804
IGD 24 Jam : +62 31-329 4118