Artikel

BELL'S PALSY

Share
  • Twitter
  • Facebook
BELL'S PALSY



Apa Itu Bell's Palsy?

Bell's Palsy adalah penyakit yang menyerang saraf pada wajah yang menyebabkan otot pada salah satu sisi wajah mengalami kelumpuhan. Nama Penyakit yang unik ini dapat mengganggu penampilan. Karena jika tidak ditangani akan terjadi kecacatan pada wajah, yaitu wajah terlihat perot/melorot (tidak simetris)


Apa Penyebabnya?

Penyebab muka miring/perot bahkan melorot (Bell"s Palsy) ini belum diketahui secara pasti, namun para ahli meyakini infeksi virus Herpes simplek sebagai penyebab utamanya, sehingga terjadi  proses radang dan pembengkakan saraf. Selain itu, disebutkan juga virus Herpes zoster yang sering menyerang wajah tanpa disertai gejala yang jelas. Gangguan otot wajah dapat pula disebabkan oleh serangan stroke, infeksi, sakit getah bening dan tumor. Kasus ini dapat terjadi pada semua usia baik pria maupun wanita. Bell's Palsy Biasanya terjadi pada laki-laki usia dewasa karena pria lebih banyak beraktivitas di luar ruangan. Orang yang bekerja di ruangan ber AC pun bisa terserang Bells Palsy bila hawa dingin yang ditimbulkan hanya terpusat pada satu sisi. Pada seseorang dengan kekebalan menurun dan juga mereka yang mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit ini juga dapat mengalami Bell Palsy.

Gejala dan Komplikasi
Secara tiba-tiba mengalami kelumpuhan ringan, wajah melorot atau mencong sehingga sulit berekspresi, rasa sakit pada telinga terutama di belakang telinga, sensitif terhadap suara pada sisi wajah yang terpengaruh, fungsi lidah terganggu sehingga tidak dapat merasakan makanan dan minuman. Pada kasus yang ringan proses penyembuhan lebih cepat, sedangkan pada kasus yang lebih berat dapat menyebabkan kerusakan permanen serabut saraf.

Segera Cari Pertolongan Medis
Segera konsultasikan ke dokter spesialis saraf jika tiba-tiba wajah terlihat miring/perot. Penanganan biasanya dilakukan dengan obat-obatan dan fisioterapi. Sejauh ini belum ada tes laboratorium yang spesifik untuk mendiagnosis. Umumnya dokter menilai pemeriksaan dari kondisi wajah dan gerakan otot wajah ketika memejamkan mata, mengangkat alis, memperlihatkan gigi dan mengerutkan dahi. Untuk memastikan diagnosa dilakukan dengan Electromyography (EMG), Imaging scans (MRI, CT Scan, X-ray). Hal penting dalam optimalisasi terapi adalah "Latihan Wajah”. Yang perlu diperhatikan juga adalah "Mata”. Kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna akan menimbulkan masalah baru berupa iritasi dan infeksi mata jika tidak segera ditangani. Latihan wajah dilakukan minimal 2 – 3 kali sehari. Kualitas latihan lebih utama daripada kuantitasnya, untuk itu lakukan sebaik mungkin.

Lanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah tertentu  yang dapat merangsang otak untuk tetap memberi sinyal untuk menggerakkan otot-otot wajah.

Lakukan latihan di depan cermin.
Gerakan yang dilakukan  berupa:
- Tersenyum
- Mencucurkan mulut kemudian  bersiul
- Mengatupkan bibir
- Mengerutkan hidung
- Mengerutkan dahi
- Menarik sudut mulut secara manual dengan telunjuk dan ibu jari
- Mengangkat alis secara manual dengan  keempat jari panjang (selain ibu jari)
- Membuka dan menutup kelopak mata.





HEMIFACIAL SPASM

Kejang hemifacial (Hemifacial Spasm) adalah kejang tidak disadari yang tidak terasa sakit pada salah satu bagian wajah disebabkan kerusakan syaraf cranial ke-7 (syaraf wajah). Syaraf ini menggerakkan otot wajah, merangsang kelenjar ludah dan air mata, dan memungkinkan bagian depan lidah untuk mengetahui rasa. Kejang hemifacial (Hemifacial Spasm) mempengaruhi pria dan wanita tetapi lebih sering terjadi pada usia pertengahan dan wanita yang lebih tua. Kejang tersebut kemungkinan disebabkan oleh kelainan posisi arteri atau simpul pada arteri yang menekan syaraf cranial ke-7 dimana terdapat batang otak.

GEJALA

Otot pada salah satu bagian wajah tidak sengaja kejang, biasanya diawali dengan kelopak mata, kemudian menyebar menuju pipi dan mulut. Kejang kemungkinan sementara pada awalnya tetapi bisa jadi hampir berlanjut. Gangguan tersebut pada hakekatnya tidak menyakitkan tetapi bisa memalukan.

DIAGNOSA

Diagnosa tersebut dibuat ketika dokter melihat kejang. Magnetic resonance imaging (MRI) harus dilakukan untuk memeriksa tumor, kelainan struktur lain, dan bukti pada multiple sclerosis. Biasanya, MRI bisa mengenali kelainan simpul pada tekanan arteri melawan syaraf tersebut.

PENGOBATAN

Botulinum toxin adalah obat yang dipilih. Hal ini disuntikkan ke dalam otot yang terkena. Obat-obatan yang sama digunakan untuk mengobati trigeminal neuralgia-antidepreasn carbamazepine, gabapentin, phenytoinome baclofen, dan trisiklik bisa membantu. Jika pengobatan menggunakan obat-obatan tidak berhasil, operasi kemungkinan dilakukan untuk memisahkan kelainan arteri dari syaraf dengan menempatkan busa kecil diantaranya..

Fasilitas Rawat Inap RS PHC Surabaya

Banner 270 x 120 pxlBanner Space 370 x 120 pxl
Ruang Tamu Berlian,Berlian Buffed,Fasilitas Kamar Berlian
RS PHC Surabaya
Jl. Prapat Kurung Selatan No. 1 Tanjung Perak - Surabaya
 | Phone : +62 31-329 4801 - 3 | Fax. : +62 31-329 4804
IGD 24 Jam : +62 31-329 4118