Artikel

Waspadai Gangguan Pendengaran Pada Anak

Share
  • Twitter
  • Facebook

Telinga merupakan indera yang penting. Jika terjadi gangguan pendengaran, apalagi sejak lahir, tentu saja akan mengganggu tumbuh kembang anak. Penting bagi orangtua untuk sedini mungkin mendeteksi gangguan pendengaran.

Bagaimana caranya?

Deteksi dini gangguan pendengaran

Kapan harus dilakukan deteksi gangguan pendengaran ? Joint Committee of Infant Hearing pada tahun 1982 menyarankan, terutama bagi bayi yang mempunyai resiko tinggi terhadap ketulian, saat yang optimal yaitu sebelum usia 3 bulan, selambat-lambatnya pada usia 6 bulan. Saat ini gold standard untuk skrining pendengaran bayi adalah Otoacoustic Emission (OAE) dan Automated ABR (AABR), keduanya direkomendasikan oleh Joint Committee of Infant Hearing. Baik OAE maupun AABR merupakan cara pengukuran elektrofisiologik yang objektif, non invasif dan praktis. dZ ua @ an habilitasi pada usia 6 bulan.

Penanganan

Penanganan anak dengan gangguan pendengaran tentunya tergantung dari penyebabnya. Anak yang mengalami gangguan pendengaran sejak lahir, input jalur informasi melalui jalur pendengaran terputus. Meskipun dasar perkembangan kemampuan kognitif secara umum berjalan normal akan tetapi tanpa akses melalui jalur pendengaran maka kemampuan berbicara tidak dapat berkembang secara normal tanpa intervensi. Jenis intervensi tersebut meliputi kapasitas pendengaran, lingkungan dirumah dan keluarga, perkembangan kognitif dan sosio-kognitif, perkembangan bahasa, pendidikan, perkembangan sosio-emosional dan mempersiapkan karier saat anak dewasa. Penanganan anak dengan gangguan pendengaran merupakan program yang cukup kompleks yang melibatkan tidak hanya dokter, audiologist, psikolog, ahli terapi wicara dan guru SLB saja tetapi peran orang tua sangat penting untuk mendukung keberhasilan anak. Tujuan utama dalam menangani anak dengan gangguan pendengaran (tuna rungu) adalah bagaimana meningkatkan berkomunikasi verbal dengan program habilitasi yang merupakan proses untuk mengurangi disability dan mencegah handicap yang lebih besar. Meskipun dasar perkembangan kemampuan kognitif secara umum berjalan normal akan tetapi tanpa akses melalui jalur pendengaran maka kemampuan berbicara tidak dapat berkembang secara normal tanpa intervensi. Jenis intervensi tersebut meliputi kapasitas pendengaran, lingkungan dirumah dan keluarga, perkembangan kognitif dan sosio-kognitif, perkembangan bahasa, pendidikan, perkembangan sosio-emosional dan mempersiapkan karier saat anak dewasa.
Orang tua dapat melakukan deteksi dini secara sederhana berdasar pengamatan respons bayi/anak terhadap suara di sekitarnya. Orang tua harus waspada apabila anak :

 

  1. Bayi tidak kaget meskipun ada suara keras
  2. Kurang responsif terhadap suara disekitarnya, misal vacum cleaner, klakson mobil.
  3. Belum dapat mengoceh/babbling pada usia 12 bulan
  4. Responsif terhadap apa yang dilihat tetapi kurang responsif terhadap suara.
  5. Pada usia 18 bulan tidak dapat mengucapkan 6 รข€" 8 kata yang berarti.
  6. Anak bicara tetapi ucapannya tidak berarti
  7. Perkembangan reseptif terlambat.
  8. Fungsi ekspresif terlambat. Kemampuan bicara tidak berkembang sesuai usia.
  9. Hanya memberikan respons terhadap suara dengan kekerasan tertentu.
Konsultasikan dengan Dokter Spc. THT Anda bila terdapat kejanggalan pada pendengaran buah hati Anda.

Infomasi lebih lanjut Hubungi : 031-3294801-03

Fasilitas Rawat Inap RS PHC Surabaya

Banner 270 x 120 pxlBanner Space 370 x 120 pxl
Ruang Tamu Berlian,Berlian Buffed,Fasilitas Kamar Berlian
RS PHC Surabaya
Jl. Prapat Kurung Selatan No. 1 Tanjung Perak - Surabaya
 | Phone : +62 31-329 4801 - 3 | Fax. : +62 31-329 4804
IGD 24 Jam : +62 31-329 4118